Muharom, Adi (2026) Penyair dalam Al-Qur'an penafsiran Q.S. Asy-Syu'ara ayat 224-227 perspektif tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka. Other thesis, Sekolah Tinggi Ilmu Al Quran As-Syifa.
1_Cover.pdf
Download (199kB)
2_SK Bebas Plagiasi.pdf
Download (1MB)
3_Abstrak.pdf
Download (440kB)
4_Daftar Isi.pdf
Download (321kB)
5_Bab I.pdf
Download (789kB)
6_Bab II.pdf
Restricted to Registered users only
Download (2MB)
7_Bab III.pdf
Restricted to Registered users only
Download (424kB)
8_Bab IV.pdf
Restricted to Registered users only
Download (1MB)
9_Bab V.pdf
Restricted to Registered users only
Download (323kB)
10_Daftar Pustaka.pdf
Restricted to Registered users only
Download (596kB)
Abstract
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh maraknya perkembangan seni dan sastra di era modern yang tidak jarang dimanfaatkan untuk hal-hal negatif, seperti penyebaran informasi palsu, propaganda, dan degradasi moral. Al-Qur’an sendiri memberikan kritik terhadap penyair, khususnya dalam QS. Asy-Syu’ara ayat 224-227, yang mencela penyair yang menyesatkan, namun memberikan pengecualian bagi mereka yang beriman dan beramal saleh. Kajian ini berfokus pada pemahaman konsep penyair dalam Al-Qur’an melalui Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka, serta bagaimana relevansinya dalam mengarahkan seni dan sastra agar selaras dengan nilai-nilai Islam sebagai sarana dakwah. Tujuan utama penelitian ini adalah menelaah penafsiran Buya Hamka terhadap ayat tersebut dan menghubungkannya dengan realitas sosial masa kini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan tafsir tahlili yang merujuk pada teori Manna’ Khalil Qattan. Proses analisis dilakukan dengan mengkaji ayat-ayat terkait melalui Tafsir Al-Azhar dan didukung oleh berbagai literatur relevan guna memperkaya pemahaman. Kajian difokuskan pada analisis aspek linguistik, asbab al-nuzul, korelasi antar ayat, serta nilai-nilai yang terkandung dalam penafsiran Buya Hamka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Buya Hamka tidak menentang eksistensi seni dan sastra, melainkan menekankan agar keduanya diarahkan sebagai sarana dakwah yang membawa kebaikan. Hamka menilai bahwa penyair yang dicela adalah mereka yang menjadikan syair sebagai alat kebohongan dan kesiasiaan, sedangkan penyair yang beriman, mengingat Allah, dan membela kebenaran justru mendapat pujian. Dalam konteks kontemporer, pengertian penyair meluas hingga mencakup peneliti, seniman, jurnalis, bahkan pembuat konten digital, yang seharusnya mengarahkan karya mereka untuk menjunjung moralitas dan nilai-nilai keislaman.
Kata Kunci: Penyair, Al-Qur’an, Tafsir Al-Azhar, Buya Hamka,
QS. Asy-Syu’ara
| Item Type: | Thesis (Other) |
|---|---|
| Subjects: | Ilmu Al Quran dan Tafsir > Studi Tokoh |
| Divisions: | Program Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir |
| Depositing User: | Unnamed user with email repositori@stiq.assyifa.ac.id |
| Date Deposited: | 09 Feb 2026 02:56 |
| Last Modified: | 25 Jun 2026 07:46 |
| URI: | http://repository.assyifa.ac.id/id/eprint/21 |
